04 January 2013
Pribadi Kontradiktif
Tubuhnya kurus dengan punggung sedikit membungkuk. Mungkin karena usia yang semakin lanjut. Sehari-hari mangkal di depan sebuah warung mie ayam yang selalu ramai dengan pengunjung. Dihadapannya sebuah baskom berisi kue cuwer, makanan khas Cilegon. Makanan yang terbuat dari tepung beras dengan campuran parutan kelapa muda. Ketika sore menyambut malam dan dagangannya belum juga habis, sepasang kaki ringkihnya membawanya berkeliling. Sebuah perjuangan yang tidak ringan di usianya yang menjelang senja.
Mbok Hajar, satu pribadi lain yang juga berjuang untuk dirinya. Anak-anaknya yang sudah berumah tangga, tidak lebih beruntung darinya dari segi ekonomi. Setiap pagi berkeliling komplek menjalani profesinya sebagai pemulung. Tubuh kecil dengan keriput yang menandakan usianya menjelang senja. Ya, usianya sudah menginjak 70-an. Pergerakannya mulai lamban. Itu sebabnya kenapa penghasilannya semakin menurun. Kalah bersaing dengan pemulung lain yang masih muda dan gesit. Salah satu kebiasaannya adalah mengucapkan salam dan bersalaman dengan warga yang kebetulan bertemu atau sedang berada di halaman rumah.
Satu sosok lagi biasa terlihat di salah satu sudut pasar tradisional. Sesosok lelaki tua dengan gelaran berbagai peralatan dapur, seperti pisau, golok, garpu kebun, dan peralatan lain hasil tempaan pandai besi. Dengan setia menawarkan barang dagangannya kepada pengunjung yang melintas. Satu atau dua bilah pisau dapur dan barang-barang lain berpindah tangan. Cukuplah untuk makan siang itu dan sore nanti. Menjelang sore, hamparan dagangan dirapihkan untuk dihamparkan lagi esok pagi.
Perjuangan yang membuat mereka mulia dibandingkan dengan individu-individu lain yang
menadahkan tangan mengandalkan belas kasihan orang lain. Mengetuk pintu rumah yang satu kemudian ke rumah yang lain. Padahal, usia mereka belumlah terlalu renta. Bahkan banyak yang terlihat begitu gagah dan mampu berdiri tegak. Kemalasankah yang membuat mereka seperti itu?
Sepotong Kisah Di UGD
Dunia ini panggung sandiwara….begitu
bunyi sebait lagu. Begitu beragam peran yang kita mainkan, mulai yang kocak, mabuk kepayang,
gembira, sekaligus bersedih. Peran apa yang kita mainkan hari ini? Peran bersedih
tentunya sangat tidak kita inginkan. Akan tetapi ketika peran itu harus kita
mainkan juga, apa daya kita untuk menolaknya?
Seperti peran, dengan setting di
sebuah ruang UGD rumah sakit daerah, yang dimainkan seorang ibu ketika sang
buah hatinya sakit. Buah hati yang sedang lucu-lucunya menjelang usianya yang
ke-2 tahun harus berjuang melawan penyakit yang menyerang paru-parunya. Nafasnya
pelan, matanya terpejam. Wajah tanpa dosa. Matanya kadang terbuka ketika sang
ibu sedikit mengguncang tubuhnya, melihat sebentar ke arah ayah bundanya seakan
berkata “Bunda, aku tidak apa-apa. Bunda jangan khawatir karena ada Allah yang akan
menjadi penolongku”. Mata bening itupun tertutup lagi dengan menyisakan nafas
satu-satu. Sang bunda semakin tidak berdaya ketika dokter yang menanganinya
memvonis harus masuk ruang ICU. Sang
ayah pun tidak kalah kalutnya. Biaya darimana? Pertanyaan yang tidak sanggup diucapkan
ketika dokter itu juga mengatakan ruang ICU di rumah sakit itu sedang penuh,
tidak ada alternatif atau empati. Berarti harus mencari rumah sakit lain, rumah
sakit swasta dengan biaya yang jauh lebih besar. Peran itu semakin berat karena
tiada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk sang buah hati tercinta selain
berdoa. Sesekali sang kakak yang ikut mendampingi, membelai wajah mungilnya. “Dedek,
bangun sayang….ini kakak”. Detik demi detik, tubuh mungil itu semakin lemah, memucat,
dan nafasnya semakin pelan. Tubuhnya dingin dan mulai membiru. Ayah bundanya
hanya bisa pasrah, sementara sang kakak hanya bisa menangis melihat penderitaan
sang adik. Sang bunda pun jatuh pingsan ketika tubuh mungil itu berhenti
bergerak, kembali ke pemiliknya yang hakiki. Tidak ada tarikan dan hembusan nafas lagi. Allah sudah mengambilnya
kembali. Menyudahi penderitaannya. Dokter dan tenaga medis bergerak terlatih. Melepaskan selang-selang dan
membereskan peralatan. Sementara sang ayah hanya terpaku pasrah, menyerah pada
keadaan.
Cilegon, 02 Januari 2013.
25 June 2012
Rahasia Allah
Banyak rahasia kehidupan yang tidak kita ketahui. Terkadang kita mengeluh karena tidak mendapatkan apa yang kita minta atau inginkan. Seperti kata-kata bijak “Aku meminta bunga yang indah, tetapi Tuhan mengirimku kaktus. Aku meminta burung yang indah, tetapi Tuhan memberiku ulat. Aku pun tersenyum ketika kaktus itu berbunga dengan indahnya dan ulat pun bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang pandai menari”. Tetapi tidak jarang pula kita mendapatkan lebih dari apa yang inginkan.
Pertama
Beberapa tahun yang lalu, ketika teknologi prosesor Pentium
IV mulai memasuki pasar, sebagai seorang teknisi komputer freelance, aku bertekad untuk tahu dan mampu mengatasi permasalahan
komputer dengan teknologi tersebut. Ketika
di kotaku akan diadakan worshop merakit komputer dengan teknologi Pentium IV, aku pun
bertekad untuk mengikuti worshop tersebut walaupun harus mengeluarkan biaya. Satu
hari sebelum aku melakukan pendaftaran, sebuah pesan singkat masuk. “Pak, bisa bantu
menjadi instruktur workshop merakit komputer?” Dengan tegas aku jawab “Bisa”. Training
singkat diberikan untuk para calon instruktur. Alhamdulillah, pengetahuan akan
teknologi yang kubutuhkan dapat diperoleh tanpa harus mengeluarkan biaya. Sebaliknya,
ada tambahan uang saku dari panitia serta sebuah T-Shirt dan piagam sebagai
kenangan-kenangan.
Kedua
Ketika ada kabar aku akan ditugaskan di Kota Palembang untuk
beberapa hari, yang terbersit adalah bagaiamana caranya mengunjungi Jembatan Ampera
yang menjadi ikon kota
ini. Apa yang aku dapat? Lokasi kerja dan tempat kost-ku terpisah jembatan
bersejarah itu. Artinya, dua kali dalam satu hari aku melewatinya.
Rahasia Allah memang tidak bisa kita tebak. Selalu bersyukur
dengan apa yang kita miliki dan dapatkan, hanyalah salah satu cara memahami
rahasia-Nya.
Ketika Putri Kecilku Jatuh Cinta
Hari ini, hari ke enam aku menjalani tugas di Bumi Sriwijaya
dengan ikon Jembatan Ampera-nya. Naite-ku bergetar dan pada layarnya tampak gambar
amplop. Pesan singkat dari siapa gerangan? “Ayah, anaknya lagi jatuh
cinta. Saat rasa keduanya tumbuh, sang
pangeran pindah sekolah. Patah hati n sedih karena Kamis ini berangkat…Nah lho??”
itu bunyi pesan singkat yang kuterima dari isteriku siang ini.
Ah, tidak terasa putri kecilku telah menjelma menjadi
seorang remaja putri. Dan sekarang mengalami pernik-pernik kehidupan layaknya
remaja yang lainnya. Sebuah perasaan yang wajar dan akan dialami oleh siapapun.
Sikap bijak sebagai orang tua, tentunya dengan memberikan pengertian agar tidak
terbawa perasaan dan melakukan hal-hal diluar batasan.
Tanpa kita sadari fase kanak-kanak putra putri kita begitu
cepat berlalu. Kini, fase berikutnya sudah didepan mata. Fase dimana pencarian jati
diri dimulai, kelabilan emosi yang mendominasi, dan hal-hal lain yang begitu
rentan menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang terlarang dan menyesatkan.
Bisa aku bayangkan betapa beratnya tanggung jawab seorang
ibu ketika harus mengawasi anak-anaknya tanpa kehadiran sang suami setiap hari.
Beruntunglah teknologi komunikasi sudah sedemikian canggih dengan segala
kemudahannya, walaupun tidak serta merta dapat menggantikan keberadaan seorang
ayah di tengah putra putrinya. Paling tidak, komunikasi dapat dilakukan kapan pun
dengan biaya yang relatif murah.
“Cinta yang utama adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasa
suka kepada lawan jenis adalah fitrah manusia yang kita syukuri, tetapi harus
tetap kita jaga jangan sampai melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya” Kata-kata
itulah yang akhirnya aku kirimkan sebagai balasan pesan singkat dari isteriku.
Selamat datang di duniamu yang baru, putriku sayang. Tetap berpegang
teguhlah pada ajaran agamamu demi
keselamatanmu di dunia dan akhirat kelak.
07 June 2012
Bravo-Charlie – part2
Hubungan antara Bravo-Charlie
ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan. Tidak seperti sopir tembak mikrolet
atau metromini. Mereka mempunyai ikatan yang cukup ketat karena dituangkan
dalam perjanjian diatas kertas. Perjanjian itu meliputi hak dan kewajiban
antara Bravo-Charlie. Charlie tidak hanya sekedar mendapatkan keuntungan dari
selisih pendapatan dengan setoran, tetapi juga persentase nilai jual kendaraan
ketika masa angsuran berakhir.
Bravo yang mengangsur kendaraannya bekerjasama dengan orang lain, apakah itu teman atau saudaranya, ketika mendapatkan giliran off bisa menjadi Charlie untuk Bravo yang lain. Dengan demikian dia masih mendapatkan penghasilan ketika jadualnya libur plus prosentase dari nilai penjualan kendaraan setelah lima tahun menjadi seorang Charlie.
Hubungan antara Bravi-Charlie tidak selamanya mulus, dikarenakan sifat rakus dan serakah yang masih melekat dihati. Umumnya terjadi perselisihan disengaja antara Bravo-Charlie menjelang akhir angsuran, agar Bravo tidak perlu membagi uang hasil penjualan kendaraannya.
Bravo-Charlie – part1
Ini ilmu baru hasil ngobrol
bareng pengemudi taksi, dengan dominasi warna biru, dalam perjalanan
Kalibata-Fatmawati. Berbeda dengan pengemudi ketika
berangkat yang cenderung lebih banyak diam, bapak yang satu ini justru
berinisiatif mengajak pelanggannya ngobrol. Mungkin karena mobil yang dibawa
tidak ada fasilitas entertainnya kali, ya…. Padahal perusahaannya sama.
Akupun basa-basi bertanya tentang jam keluar dari
poolnya, jam masuk pool, potongan komisi jika telat masuk pool, sampai akhirnya obrolan merembet ke pola perolehan pendapatan. Diperusahaannya beliau merasa nyaman
dengan dengan pola komisi. Karena tidak perlu cemas dengan jumlah pendapatan.
Berapapun hasilnya, hanya akan mempengaruhi jumlah komisi yang beliau terima.
Ditambah lagi dengan jaminan kesehatan untuk dirinya dan keluarganya. Walaupun
harus membayar sejumlah uang per bulan, yang aku prediksi sebagai premi
asuransi, namun tidak merasa keberatan karena jumlahnya hanya Rp 15.000 per
orang.
Beliau membandingan dengan
rekan-rekannya sesama pengemudi taksi dari perusahaan lain. Memang ada
kelebihannya, yaitu setelah 5 tahun masa angsuran, kendaraan menjadi milik
sendiri. Untuk usaha yang sama? Ternyata tidak juga. Karena hanya diperbolehkan
untuk menggunakan selama 6 bulan setelah lunas. Setelah itu? Ya,
bermatemorfosis menjadi mobil pribadi. Harus ganti nama dan cat ulang. Setelah itu biasanya dijual.
Selama periode angsuran, mereka
harus menyediakan uang setoran dengan jumlah tertentu setiap harinya. Tanpa kecuali.
Nah, disinilah kreatifitas calon pemilik yang disebut dengan istilah Bravo. Bagaimana
supaya tetap ada setoran walaupun sedang berhalangan, Entah karena sakit atau keperluan
yang lainnya. Pengemudi cadangan, yang disebut Charlie, harus dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi
tersebut.
31 May 2012
Terminal Bayangan Di Ruas Tol Jakarta-Merak
Bagi pengguna moda transportasi bis yang setiap hari pulang
pergi melalui ruas tol Merak-Jakarta, tentunya bukan merupakan pemandangan aneh
lagi dengan banyaknya calon penumpang yang
menunggu di sepanjang ruas tol tersebut. Meskipun undang-undang melarang mereka
untuk memasuki jalan tol, bagi mereka tidak lebih sekedar aturan. Kebutuhan akan
moda transportasi yang murah, cepat, dan nyaman seakan menafikan adanya aturan
tersebut. Ancaman bahaya karena menunggu angkutan di ruas tol seakan tidak
mereka pedulikan. Padahal adanya undang-undang tersebut disatu sisi untuk melindungi
keselamatan masyarakat yang tinggal disekitar ruas tol. Karena pada umumnya pengemudi
diruas tol melaju dengan kecepatan tinggi.
Kemampuan secara finansial, juga menjadi salah satu alasan mengapa
mereka menunggu angkutan diruas tol, bukan di terminal. Mereka tidak perlu
membayar tarif penuh karena sudah melewati petugas kontrol penumpang. Artinya ongkos
yang mereka bayar bisa jadi uang tambahan atau keperluan lain bagi awak bis diluar
biaya yang ditanggung oleh perusahaan. Untuk
itu mereka rela untuk berdiri dan berdesak-desakan selama perjalanan.
Praktik seperti ini bukan tanpa akibat, karena menghambat
perjalanan penumpang yang lain. Tetapi tidak ada pilihan lain, karena hampir semua
awak bis melakukannya. Berbagai macam
cara sudah dilakukan pihak pengelola untuk mencegah mereka memasuki jalan tol,
tetapi selalu ada cara yang mereka temukan untuk melakukannya kembali.
25 May 2012
Komplain Lagi
Hari jumat bisa jadi merupakan hari istimewa dan
ditunggu-tunggu buat sebagian orang yang bekerja diluar kota. Begitu juga denganku dan orang-orang tercinta
yang menantikan kepulanganku setiap Jum’at malam. Aku selalu berusaha untuk sebisa mungkin pulang tepat waktu,
syukur-syukur bisa lebih cepat. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Meeting
mendadak, misalnya, atau acara lain seperti employee
gathering yang diadakan setiap hari Jum’at terakhir setiap bulan. Dimana seluruh
karyawan ditekankan untuk bisa mengikuti. Apalagi jumlah karyawan di perusahaan
tidak terlalu banyak, masih bisa dihitung dengan jari. Sehingga terlihat sekali
jika ada yang tidak ikut serta.
Seperti hari ini, kemungkinan besar aku tidak bisa
pulang tepat waktu karena ada acara employee
gathering di salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan. Ketika telepon
siang tadi, kentara sekali nada kecewa isteriku ketika aku kabari tidak bisa pulang
tepat waktu. Kalau untuk urusan pekerjaan, mungkin isteriku masih bisa mengerti.
Terbayang juga reaksi anak-anak ketika
ibunya memberitahukan mereka. Ini
berarti waktu kebersamaan selama akhir pekan berkurang…….
14 May 2012
13 Tahun
14 Mei 1999, merupakan salah satu tanggal bersejarah dalam
kehidupanku. Tanggal dimana statusku berubah menjadi seorang ayah dari bayi
mungil berjenis kelamin perempuan yang dilahirkan melalui operasi Cesar. Cucu
pertama untuk kedua orang tua dari isteriku, dan cucu perempuan kedua untuk
orang tuaku setelah sebelumnya diselingi beberapa cucu laki-laki. Rambutnya ikal
dengan garis mata yang tipis dan alis teratur seperti ibunya. Cantik? Sudah tentu.
Dariku? Bulu mata yang panjang yang
dikemudian hari membuat banyak saudara sepupunya iri.
14 Mei 2012, 13 tahun sudah mengarungi dunia dengan segala
hiruk-pikuk dan intrik-intriknya. Bayi mungil itu kini telah menjelma menjadi
seorang gadis remaja tanpa aku sadari. Remaja dengan segala keinginan dan sifat
keakuannya yang mulai tumbuh. Bukan lagi bayi yang hanya butuh ditimang-timang
dan dininabobokan, tetapi lebih dari itu. Remaja yang sudah mulai bisa mengkritik kami, orang tuanya. Remaja yang butuh orang tuanya bukan hanya untuk mengadu, tetapi juga
sebagai teman untuk berdiskusi.
Selamat ulang tahun, sayang… mudah-mudahan seiring
bertambahnya usiamu, bertambah pula kedewasaanmu. Tidak lain yang kami harapkan
selain melihatmu tumbuh dewasa dan berpegang teguh pada ajaran agamamu. Mudah-mudahan
cita-citamu untuk menempuh pendidikan di tempat yang kamu inginkan tercapai. Perjuangan
sepenuhnya ada dipundakmu. Kami hanya bisa mendukung sekuat yang kami mampu….
28 February 2012
Gado-Gado Encim Kerupuk Merah
Onderdil kendaraan sudah dapat, Sholat Jum’at juga sudah. Ah, giliran lambung minta diisi. Karena baru pertama kali mengunjungi Pasar Palmerah, aku tidak tahu dimana tempat makan yang enak dan nyaman. Sambil iseng menyusuri jalan ke arah perempatan Slipi, mataku melihat kiri dan kanan, barangkali ada tempat makan yang menarik.
Sebuah kios kecil yang sebagian besar depannya tertutup kain hijau bertuliskan GADO-GADO CENDOL PALMERAH menarik perhatianku. Kebetulan aku penyuka sayuran. Sambil menunggu pesanan, seporsi gado-gado lontong, mataku memperhatikan sekitar. Hanya ada satu pengunjung, berdua denganku saat itu. Nampak sangat menikmati sajian gado-gado dengan sepiring nasi. Beberapa pengunjung datang dan memesan untuk dibungkus. Ketika mataku melihat ke tembok didepanku, mataku tertarik dengan sebuah kliping tabloid ibukota yang dilaminating dan dipajang disana. Ah, rupanya itu adalah artikel mengenai kios gado-gado ini. Kalimat-kalimat yang mempromosikan gado-gado dan cendol kios ini memenuhi halaman. Tak lama kemudian pesananku datang, seporsi gado-gado lontong dengan beberapa keping emping goreng plus kerupuk berwarna merah yang ternyata trade mark kios ini.
Entah karena lapar atau ramuan gado-gado yang memang layak untuk diberitakan, aku sangat menikmati hidangan siang itu sampai tandas dan menyudahi santap siang itu dengan meneguk segelas teh hangat sebagai penutup. Setelah menyerahkan selembar 20000-an dan menerima dua lembar 2000-an sebagai kembalian, aku melangkah keluar dan melambai ke sebuah taksi yang melintas untuk kembali ke kantor.
Labels:
gado-gado,
kerupuk-merah,
palmerah
Pasar Palmerah
Pernah ke Pasar Palmerah? Sebuah pasar berlantai 4 di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Untuk pertama kalinya aku mengunjungi pasar ini, mendapatkan dua kesan yang sangat bertentangan. Lantai 3 yang merupakan pusat penjualan onderdil kendaraan bermotor, cukup ramai dengan kendaraan yang sedang diperbaiki maupun penambahan aksesori.
Untuk mencapai lantai 3 aku menggunakan tangga yang cukup tajam aroma limbah cair manusia. Entah bagian tangga mana yang nanti aku bisa lalui untuk turun yang bebas dari aroma ini. Kebetulan hari itu adalah hari Jum’at dan aku ke pasar ini menjelang Sholat Jum’at dilaksanakan. Setelah memesan onderdil kendaraan yang aku butuhkan, aku bilang titip dulu mau Sholat Jum’at. “Ya sudah, sholat aja dulu. Bayarnya nanti aja sekalian ngambil. Tempat sholatnya diatas lantai ini”, pemilik toko menolak halus. Mungkin karena aku memperkenalkan diri sebagai anggota sebuah klub otomotif yang cukup dia kenal baik.
Dalam bayanganku, tentu tempat sholatnya adalah mushola kecil ditambah lapangan parkir yang disulap menjadi tempat sholat setiap Jum’at. Dugaanku meleset jauh karena tempat sholatnya adalah sebuah ruangan yang didesain menjadi sebuah masjid. Dindingnya dihiasi kaligrafi yang indah. Ruangan utama disekat dinding kaca dan dilengkapi dengan pengatur suhu ruangan dan beberapa kipas angin. Karpetnya bersih terawat.
Ruang wudhunya pun bersih dan tidak tercium sedikitpun bau yang aku temui di tangga tadi. Dari keterangan pangurus masjid saat membacakan laporan mingguan, masjid ini bukan sekedar masjid pasar yang sepi aktifitas setelah toko-toko tutup. Pada malam-malam tertentu dimakmurkan dengan adanya majelis.
Ba’da Sholat Jum’at aku kembali ke toko dan mengambil pesanan setelah membayar. Aha, tangga turun tidak jauh dari toko ini. Ups…..ternyata tangga yang ini lebih parah dari tangga tempat aku naik tadi. Sambil menahan nafas, aku tapaki satu demi satu anak tangga sampai akhirnya sampai ke lantai yang bebas dari aroma menyesakkan tadi dan kembali bernafas dengan normal. Sangat jauh berbeda dengan lingkungan masjid tempat aku Sholat Jum'at tadi.
Oh ya, nama masjidnya Daarussalam, Pasar Palmerah Lantai 4.
Labels:
masjid_palmerah,
palmerah,
pasar
14 February 2012
Pentingnya Mengetahui Arah Kiblat
Apa yang akan anda lakukan ketika akan melaksanakan sholat, bukan di mesjid, di daerah yang bukan menjadi tempat tinggal kita? Dalam arti kita adalah pendatang di daerah tersebut. Bertanya kepada penduduk setempat, melihat arah matahari terbenam, atau berusaha mencari mesjid atau surau tentu akan menjadi alternatif jawaban.
Mengetahui arah kiblat tentu sangat penting karena berkaitan dengan kewajiban kita sebagai muslim untuk menunaikan sholat sebagai rukun Islam yang ke dua. Bersyukurlah kita sekarang hidup di mana teknologi sangat membantu kita memecahkan permasalahan diatas. Kompas, sebagai alat penunuk arah, adalah salah satunya. Sedangkan untuk mengetahui arah kiblat dari daerah tertentu, dapat memanfaatkan teknologi internet. Tidak jarang mushola di perkantoran tidak memiliki penunjuk arah kiblat yang tepat. Sehingga bukan hal yang aneh jika arah sajadah berbeda kemiringan, tergantung kepada siapa yang sholat. Padahal sholat dengan menghadap kiblat yang tepat, jika memungkinkan untuk mengetahuinya, adalah diwajibkan.
Labels:
arah-kiblat
07 February 2012
Hak Orang Tua Terhadap Anak
Adakah ayat yang menerangkan hak orang tua untuk meminta kepada anaknya dari sisi materi atau duniawi? Adakah ayat yang memperbolehkan orang tua mengambil harta anaknya sebagai imbal balik biaya yang telah dikeluarkan untuk membesarkan dan memberinya pendidikan? Jangankan untuk hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang sangat berkaitan dengan hawa nafsu, untuk hal-hal yang berkaitan dengan akhirat saja sampai saat ini aku belum menemukannya. Tetapi bukan berarti orang tua bisa kita abaikan begitu saja keberadaanya ketika mereka renta tanpa daya dan kita tidak membutuhkan biaya dari mereka.
Islam sangat menghargai orang tua karena pengorbanan mereka untuk anak-anaknya. Termasuk tetesan keringat mereka ketika mencari nafkah untuk anak-anaknya. Islam memposisikan tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Untuk itulah Islam tidak memerintahkan orang tua untuk meminta apapun dari anak-anaknya, walaupun secara manusiawi mereka berhak untuk itu. Tetapi kondisi ini dibalik dengan memberikan kewajiban itu kepada anak-anaknya untuk memperhatikan mereka. Bahkan Allah mengancam akan melaknat anak yang menelantarkan orang tuanya ketika mereka sudah renta dan tanpa daya.
Anak tidak perlu tahu apa hak orang tua terhadap mereka, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui kewajiban apa yang diberikan Allah terhadap mereka berkaitan dengan orang tua.
Islam sangat menghargai orang tua karena pengorbanan mereka untuk anak-anaknya. Termasuk tetesan keringat mereka ketika mencari nafkah untuk anak-anaknya. Islam memposisikan tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Untuk itulah Islam tidak memerintahkan orang tua untuk meminta apapun dari anak-anaknya, walaupun secara manusiawi mereka berhak untuk itu. Tetapi kondisi ini dibalik dengan memberikan kewajiban itu kepada anak-anaknya untuk memperhatikan mereka. Bahkan Allah mengancam akan melaknat anak yang menelantarkan orang tuanya ketika mereka sudah renta dan tanpa daya.
Anak tidak perlu tahu apa hak orang tua terhadap mereka, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui kewajiban apa yang diberikan Allah terhadap mereka berkaitan dengan orang tua.
Labels:
hak-orang-tua,
kewajiban-anak
Kemayoran
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat dengan tempat yang satu ini. Tentunya bukan tanpa sebab, karena di tempat ini aku memiliki kenangan ketika remaja dan mahasiswa. Disini, ketika Garuda belum memindahkan seluruh divisi IT nya ke Cengkareng, aku melakukan Kerja Praktek untuk tugas akhir kuliah. Di tempat sekitar ini pula pernah digelar Indonesia Air Show pada tahun 1986. Lantas apa hubungannya dengan IAS’86?
Pada kurun waktu itu, bukan hal lumrah remaja seusiaku berkunjung ke ibukota sendirian. Walaupun beserta dua temanku, tetap dianggap sendirian karena tanpa pengawalan orang tua atau yang sudah dianggap dewasa.
Perjalanan Cilegon-Jakarta bukan hal sulit, karena bus yang menghubungkan kedua kota itu selalu tersedia. Waktu tempuh cukup lama, 4 jam perjalanan. Bandingkan dengan saat ini yang cukup membutuhkan waktu 45-60 menit.
Sesampai di terminal Kalideres, kami kebingungan karena kala itu untuk kali pertama kami ke ibukota menggunakan kendaraan umum. Biasanya menggunakan bus carteran bersama teman-teman sekolah dan para guru. Akhirnya diputuskan untuk naik bajaj. Setelah negosiasi ala kadarnya, kendaraan operasional Bang Bajuri pun meluncur. Ternyata si Abang bajaj salah mendengar tujuan kami sehingga kami pun nyaris diantar ke Kebayoran. Karena harus balik lagi ke Kemayoran, kami diminta ongkos tambahan. Dari pada diturunkan di tempat yang tidak kami kenal, kami pun menyetujui permintaan itu tentunya setelah tawar-menawar.
Singkat cerita, sampailah kami di arena pameran dirgantara terbesar yang pernah diselenggarakan di tanah air ini…….Pesawat tempur-pesawat tempur manca negara yang dipajang dan dapat kami sentuh menumbuhkan rasa ingin yang besar untuk menerbangkannya. Itu sebabnya aku pernah bercita-cita menjadi penerbang pesawat tempur, walaupun gagal sebelum pernah mencoba. Tiba-tiba langit menggelegar dan beberapa pesawat tempur melesat sambil menyemburkan asap dari kedua sayapnya…pemandangan yang sangat luar biasa buat kami……atraksi demi atraksi kami nikmati. Tidak lupa kami pun mengabadikan kesempatan berharga itu dengan berfoto di depan pesawat. Kamera yang temanku bawa aku angap kamera yang luar biasa, karena hasilnya dua kali lipat. Artinya dengan film isi 36 kami bisa membuat foto sebanyak 72 buah. Kok bisa? Tentu bisa karena teknologi kameranya hanya menggunakan setengah ukuran film untuk satu jepretan.
Sore menjelang, atraksi pun selesai. Waktunya untuk kembali ke rumah. Kami tidak tahu dimana kami harus mencari kendaraan untuk menuju terminal Kalideres. Kami hanya mengikuti rombongan didepan yang berjalan kaki meninggalkan arena yang semakin sepi. Perlahan tapi pasti rombongan didepan kami semakin mengecil, mungkin rumah mereka dekat daerah ini. Sampai akhirnya rombongan didepan kami habis sama sekali. Kami pun terhenti di sebuah perempatan, yang dikemudian hari aku mengenalinya dengan sebutan Harmoni. Akhirnya, karena hari semakin sore, kami putuskan untuk bertanya. Ketika kami memberitahu tujuan kami, orang yang kami tanya terbelalak. Akhirnya kami disarankan untuk naik semacam bus kecil tujuan Kalideres. Sekarang aku tahu mengapa orang yang kami tanya terbelalak…..
Pada kurun waktu itu, bukan hal lumrah remaja seusiaku berkunjung ke ibukota sendirian. Walaupun beserta dua temanku, tetap dianggap sendirian karena tanpa pengawalan orang tua atau yang sudah dianggap dewasa.
Perjalanan Cilegon-Jakarta bukan hal sulit, karena bus yang menghubungkan kedua kota itu selalu tersedia. Waktu tempuh cukup lama, 4 jam perjalanan. Bandingkan dengan saat ini yang cukup membutuhkan waktu 45-60 menit.
Sesampai di terminal Kalideres, kami kebingungan karena kala itu untuk kali pertama kami ke ibukota menggunakan kendaraan umum. Biasanya menggunakan bus carteran bersama teman-teman sekolah dan para guru. Akhirnya diputuskan untuk naik bajaj. Setelah negosiasi ala kadarnya, kendaraan operasional Bang Bajuri pun meluncur. Ternyata si Abang bajaj salah mendengar tujuan kami sehingga kami pun nyaris diantar ke Kebayoran. Karena harus balik lagi ke Kemayoran, kami diminta ongkos tambahan. Dari pada diturunkan di tempat yang tidak kami kenal, kami pun menyetujui permintaan itu tentunya setelah tawar-menawar.
Singkat cerita, sampailah kami di arena pameran dirgantara terbesar yang pernah diselenggarakan di tanah air ini…….Pesawat tempur-pesawat tempur manca negara yang dipajang dan dapat kami sentuh menumbuhkan rasa ingin yang besar untuk menerbangkannya. Itu sebabnya aku pernah bercita-cita menjadi penerbang pesawat tempur, walaupun gagal sebelum pernah mencoba. Tiba-tiba langit menggelegar dan beberapa pesawat tempur melesat sambil menyemburkan asap dari kedua sayapnya…pemandangan yang sangat luar biasa buat kami……atraksi demi atraksi kami nikmati. Tidak lupa kami pun mengabadikan kesempatan berharga itu dengan berfoto di depan pesawat. Kamera yang temanku bawa aku angap kamera yang luar biasa, karena hasilnya dua kali lipat. Artinya dengan film isi 36 kami bisa membuat foto sebanyak 72 buah. Kok bisa? Tentu bisa karena teknologi kameranya hanya menggunakan setengah ukuran film untuk satu jepretan.
Sore menjelang, atraksi pun selesai. Waktunya untuk kembali ke rumah. Kami tidak tahu dimana kami harus mencari kendaraan untuk menuju terminal Kalideres. Kami hanya mengikuti rombongan didepan yang berjalan kaki meninggalkan arena yang semakin sepi. Perlahan tapi pasti rombongan didepan kami semakin mengecil, mungkin rumah mereka dekat daerah ini. Sampai akhirnya rombongan didepan kami habis sama sekali. Kami pun terhenti di sebuah perempatan, yang dikemudian hari aku mengenalinya dengan sebutan Harmoni. Akhirnya, karena hari semakin sore, kami putuskan untuk bertanya. Ketika kami memberitahu tujuan kami, orang yang kami tanya terbelalak. Akhirnya kami disarankan untuk naik semacam bus kecil tujuan Kalideres. Sekarang aku tahu mengapa orang yang kami tanya terbelalak…..
Labels:
indonesia-air-show,
kemayoran
Unlimited
Tawaran menarik bertubi-tubi ditawarkan operator seluler untuk menarik calon pelanggannya. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran Rp 25.000 atau Rp 35.000 bisa internetan unlimited alias sepuasnya. Betul internetan sepuasnya? Coba teliti lagi iklannya. Kuota 500mb! Maksudnya? Ternyata walaupun dibungkus kata-kata ‘sepuasnya’ tetap ada batasan yang menyebabkan kita tidak bisa berselancar di internet sepuasnya. Ketika kuota itu habis, kecepatan koneksi akan dikurangi alias diturunkan. Dan celakanya, bukan hanya diturunkan, tetapi dipangkas. Yang sebelumnya nyaman berselancar, menjadi sangat menyebalkan ketika kuota habis. Mau tidak mau harus isi pulsa lagi kalau ingin nyaman. Benar kata pepatah, Tidak Ada Makan Siang Gratis.
13 December 2011
Ibu
Enam tahun sudah, menurut perhitungan tahun hijriyah, ibu kembali ke pangkuan-Nya. Sosok perempuan dengan wajah teduh dan penyabar. Sangat penyabar. Sosok yang jarang sekali mengeluh akan anak-anaknya. Bahkan menjadi pelindung ketika ada diantara kami, anaknya, melakukan kesalahan. Sebisa mungkin Ibu menutupi jangan sampai diketahui ayah. Ayah memang sangat tidak suka jika anak-anaknya berbuat salah. Tidak ada alasan untuk berbuat salah.
Ibu selalu siap terjaga untuk membukakan pintu ketika aku pulang larut dan aku lupa membawa kunci. Ibu pula yang selalu mengingatkan aku ketika aku lalai sholat, juga menekankan pentingnya menabung untuk hari depan.
Seumur hidup, seingatku tidak pernah ibu masuk rumah sakit untuk dirawat. Yang terjadi sebaliknya, Ibulah yang paling sering masuk rumah sakit untuk menunggui kami, anak-anaknya atau Ayah, jika diantara kami ada yang dirawat di rumah sakit. Ketelatenan Ibu menunggui dan merawat kami merupakan obat mujarab yang mempercepat proses kesembuhan.
Antara percaya dan tidak ketika isteriku mengabari Ibu sudah tiada, karena paginya masih sempat pamitan untuk berangkat ke kampus. Ibu yang tidak pernah sakit, harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan di ruang ICU karena serangan jantung. Mungkin itu jalan yang sudah digariskan-Nya. Setelah sempat dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang membaik setelah tiga hari di ICU dan mendapatkan suntikan obat untuk memperlancar aliran darah dijantungnya, Ibu kembali kepada pemiliknya pada hari keempat. Kaki dan kepala sudah diikat kain putih ketika aku sampai di ruang perawatan. Ayah, Teteh, dan Kakak yang pagi itu menunggui Ibu tidak berkata apa-apa. Mata mereka sembab pertanda ada kesedihan. Ayah yang mengingatkan aku untuk tidak membasahi Ibu dengan air mata, karena Ayah tahu aku pasti sangat sedih. Aku sangat dekat dengan Ibu, bahkan isteriku pun cemburu dengan kedekatan itu. Aku sempatkan untuk mencium tangnnya untuk terakhir kali. Dengan tangan itu Ibu membelaiku dan menenangkanku. Dengan tangan itu ibu merawatku dari sesosok bayi yang tiada daya menjadi seorang lelaki yang terkadang berani menentangnya.
Hari itu menjadi hari terakhir aku bersama ibu dalam satu kendaraan, di kabin belakang Mobil Jenazah. Dan kenangan itu melintas setiap kali mendengar raungan sirine mobil jenazah. Biasanya aku duduk di belakang kemudi dan Ibu disampingku ketika mangantar ke sekolah atau menjemputnya sepulang mengajar. Juga ketika ingin berbelanja ke pasar atau menghadiri undangan saudara atau kerabat. Pada hari itu juga menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, mendapatkan kesempatan memandikan Ibuku untuk yang pertama dan terakhir kali bersama kakak-kakakku. Ratusan kali atau bahkan ribuan kali Ibu memandikan aku, hanya sempat membalasnya satu kali.
Begitu indah jalinan cerita sebelum kepergian Ibu. Isteriku, adik perempuanku dan kakak iparku mengandung dengan jarak yang cukup dekat. Sepertinya Ibu menantikan kelahiran cucu-cucunya sebelum kembali kepada pemiliknya.
Aku tidak tahu berapa besar bekal yang dibawa Ibu ke alam kebadian. Tidak tahu berapa besar ilmu yang dimiliki bermanfaat untuk orang lain. Juga tidak tahu berapa banyak amal jariyah yang menjadi tabungan amalnya. Tapi aku tahu, doa-doaku yang kupanjatkan untuk ibuku akan menjadi amal yang akan menjadi syafaat untuk Ibuku. Setiap selesai sholat tidak lupa aku berdoa untuk kebahagiaan Ibu di alam sana.
"Ya Allah, berilah kabahagiaan kepada Ibuku di alam akhirat-Mu yang kekal abadi. Terimalah amal ibadah Ibuku selama hidup di dunia. Ampunilah dosa-dosanya. Jadikanlah perjuangannya mengandung dan melahirkan kami anak-anaknya dengan taruhan nyawanya, merawat dan mendidik kami dengan sepenuh hati sebagai amal yang menjadi bekal kebaikan dalam kehidupannya yang abadi" Amiin......
Ibu selalu siap terjaga untuk membukakan pintu ketika aku pulang larut dan aku lupa membawa kunci. Ibu pula yang selalu mengingatkan aku ketika aku lalai sholat, juga menekankan pentingnya menabung untuk hari depan.
Seumur hidup, seingatku tidak pernah ibu masuk rumah sakit untuk dirawat. Yang terjadi sebaliknya, Ibulah yang paling sering masuk rumah sakit untuk menunggui kami, anak-anaknya atau Ayah, jika diantara kami ada yang dirawat di rumah sakit. Ketelatenan Ibu menunggui dan merawat kami merupakan obat mujarab yang mempercepat proses kesembuhan.
Antara percaya dan tidak ketika isteriku mengabari Ibu sudah tiada, karena paginya masih sempat pamitan untuk berangkat ke kampus. Ibu yang tidak pernah sakit, harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan di ruang ICU karena serangan jantung. Mungkin itu jalan yang sudah digariskan-Nya. Setelah sempat dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang membaik setelah tiga hari di ICU dan mendapatkan suntikan obat untuk memperlancar aliran darah dijantungnya, Ibu kembali kepada pemiliknya pada hari keempat. Kaki dan kepala sudah diikat kain putih ketika aku sampai di ruang perawatan. Ayah, Teteh, dan Kakak yang pagi itu menunggui Ibu tidak berkata apa-apa. Mata mereka sembab pertanda ada kesedihan. Ayah yang mengingatkan aku untuk tidak membasahi Ibu dengan air mata, karena Ayah tahu aku pasti sangat sedih. Aku sangat dekat dengan Ibu, bahkan isteriku pun cemburu dengan kedekatan itu. Aku sempatkan untuk mencium tangnnya untuk terakhir kali. Dengan tangan itu Ibu membelaiku dan menenangkanku. Dengan tangan itu ibu merawatku dari sesosok bayi yang tiada daya menjadi seorang lelaki yang terkadang berani menentangnya.
Hari itu menjadi hari terakhir aku bersama ibu dalam satu kendaraan, di kabin belakang Mobil Jenazah. Dan kenangan itu melintas setiap kali mendengar raungan sirine mobil jenazah. Biasanya aku duduk di belakang kemudi dan Ibu disampingku ketika mangantar ke sekolah atau menjemputnya sepulang mengajar. Juga ketika ingin berbelanja ke pasar atau menghadiri undangan saudara atau kerabat. Pada hari itu juga menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, mendapatkan kesempatan memandikan Ibuku untuk yang pertama dan terakhir kali bersama kakak-kakakku. Ratusan kali atau bahkan ribuan kali Ibu memandikan aku, hanya sempat membalasnya satu kali.
Begitu indah jalinan cerita sebelum kepergian Ibu. Isteriku, adik perempuanku dan kakak iparku mengandung dengan jarak yang cukup dekat. Sepertinya Ibu menantikan kelahiran cucu-cucunya sebelum kembali kepada pemiliknya.
Aku tidak tahu berapa besar bekal yang dibawa Ibu ke alam kebadian. Tidak tahu berapa besar ilmu yang dimiliki bermanfaat untuk orang lain. Juga tidak tahu berapa banyak amal jariyah yang menjadi tabungan amalnya. Tapi aku tahu, doa-doaku yang kupanjatkan untuk ibuku akan menjadi amal yang akan menjadi syafaat untuk Ibuku. Setiap selesai sholat tidak lupa aku berdoa untuk kebahagiaan Ibu di alam sana.
"Ya Allah, berilah kabahagiaan kepada Ibuku di alam akhirat-Mu yang kekal abadi. Terimalah amal ibadah Ibuku selama hidup di dunia. Ampunilah dosa-dosanya. Jadikanlah perjuangannya mengandung dan melahirkan kami anak-anaknya dengan taruhan nyawanya, merawat dan mendidik kami dengan sepenuh hati sebagai amal yang menjadi bekal kebaikan dalam kehidupannya yang abadi" Amiin......
08 December 2011
Jum'at Pagi
Jum'at pagi merupakan saat-saat yang aku tunggu-tunggu, karena beberapa jam ke depan aku akan berkumpul kembali dengan anak-anak dan isteri tercinta untuk menghabiskan waktu bersama selama akhir pekan. Walaupun kenyataannya tidak sepenuhnya demikian, karena Sabtu pagi sampai tengah hari aku masih harus berbagi waktu dengan kampus dimana aku beraktifitas sebagai dosen lepas.
Dunia kampus memang belum bisa lepas dari aktifitas rutinku. Sudah cukup lama aku mengabdi di almamaterku tercinta, bahkan dapat dikatakan sejak masih tahap perjuangan karena harus menerima pembayaran per dua bulan. Tetapi hal-hal seperti itu telah menjadi kenangan karena kampusku telah menjelma menjadi sebuah kampus yang cukup mapan dengan gedung yang kini dimiliki sendiri dan berdiri cukup megah. Fasilitas untuk perkuliahan pun semakin lengkap. Laboratorium komputer, proyektor, WiFi, sampai pangatur suhu ruangan alias AC. Akreditasi pun sudah dikantongi, yang artinya sudah diakui keberadaannya. Begitu juga dengan satu kampus lainnya dimana aku ikut 'babat alas' pada awal-awal mulai perkuliahan dengan mahasiswa angkatan pertama. Keduanya kini sudah menjadi kampus yang cukup mapan. Alhamdulillah.....
Di kampuslah aku bisa me-refresh pengetahuanku mengenai sebuah dunia yang begitu cepat berubah dan berkembang, dunia komputer.
Selepas aktivitas dikampus adalah waktu yang aku usahakan untuk sepenuhnya bercengkerama dengan keluarga sampai Senin kembali datang. Saat aku harus kembali bekerja dan berpisah dengan anak-anak dan isteriku selama satu pekan ke depan dan menanti fajar Jum'at kembali menjelang.......
Padang Sunda
Ada apa dengan Padang dan Sunda? Tidak ada apa-apa, karena aku tidak sedang menulis tentang primordialisme. Aku menulis tentang sebuah rumah makan yang menjadi salah satu favoritku saat ini.
Daerah Jakarta Selatan merupakan daerah yang relatif mudah untuk menemukan tempat makan di sekitar pemukiman atau kos-kosan. Di sekitar tempat kos-ku juga demikian. Banyak pilihan tempat makan yang dapat aku kunjungi untuk menghilangkan rasa lapar. Sebenarnya aku lebih suka masakan Sunda atau Jawa yang banyak sayuran dengan bumbu yang tidak begitu kental. Berhubung yang aku cari tidak ada, maka pilihan jatuh ke rumah makan Padang-Sunda. Walaupun kenyataannya lebih dominan Padangnya dari pada Sundanya.
Yang menarik dari rumah makan ini, pelanggan tidak dilayani perorangan atau dihidang di meja layaknya rumah makan Padang, melainkan mengambil sendiri alias prasmanan. Mungkin disini nilai Sundanya. :) Pilihan masakannya sendiri tidak banyak yang berbau Sunda. Hanya satu jenis sayur berkuah bening dan beberapa jenis pepesan, sisanya kental dengan aroma santan kelapa.
Saat makan siang lumayan padat dan antri. Setiap pembeli yang sudah mengambil makanan lapor ke kasir dan akan diberikan secarik kertas berisi angka jumlah rupiah yang harus dibayar setelah selesai makan. Hal ini mengingatkan beberapa tempat makan di kawasan kos-kosan mahasiswa di Bandung. Bedanya, di Bandung langsung bayar saat itu juga.
Suasana berbeda pada saat makan malam, karena memang sebagian besar rumah makan di sekitar tempat kos-ku khusus untuk makan siang. Bahkan beberapa diantarnya sudah tutup sore hari. Mereka tidak masak lagi untuk makan malam. Apa yang tersisa, itulah yang menjadi menu untuk makan malam. Karena sepi, untuk makan malam tidak perlu lapor tetapi langsung menuju meja untk menikmati makan malam. Setelah selesai barulah menuju kasir untuk menghitung pembayaran.
Di belantara Jakarta yang begitu keras, ternyata masih ada orang yang percaya bahwa masih banyak orang jujur di dalamnya. Dan kepercayaan itu tidak salah.........
05 December 2011
Bekal Berbumbu Cinta......
Sudah dua kali Senin isteriku membekaliku masakan rumah. Lumayan untuk makan siang dan malam. Cukup beli nasi dan sayurnya di tempat biasa makan. Senin yang lalu dibekali pepes ikan kembung, dan tidak bersisa untuk makan malam. Nikmatnya masakan yang dimasak dengan sepenuh hati cinta.... Menyesal hanya membawa satu pepes. Walaupun mengaku tidak hobi masak, tetapi harus aku akui masakannya lezat dan aku selalu makan dengan lahap. Mungkin bakat dari ibu mertuaku yang suka masak menurun pada isteriku, seperti juga kakak dan adik perempuannya. Isteriku selalu komplain karena aku jarang sekali memuji masakannya. Aku memang bukan tipe lelaki verbalis. Pelit pujian, begitu isteriku memvonisku. Tetapi dari cara aku makan, aku mengekspresikan pujian itu.
Dan Senin ini dibekali gepuk goreng. Lumayan banyak, cukup sampai makan siang besok. Kalau yang ini racikan ibu mertuaku, isteriku tinggal menggorengnya saja. Kali ini bekalku lengkap dengan nasi dan air minum. Mudah-mudahan dengan kesediaanku membawa bekal ini dapat membahagiakan hati isteriku.
Dan Senin ini dibekali gepuk goreng. Lumayan banyak, cukup sampai makan siang besok. Kalau yang ini racikan ibu mertuaku, isteriku tinggal menggorengnya saja. Kali ini bekalku lengkap dengan nasi dan air minum. Mudah-mudahan dengan kesediaanku membawa bekal ini dapat membahagiakan hati isteriku.
Ayah, Cepat Pulang......
Tidak seperti biasanya, pagi ini kakak seperti berat melepas keberangkatanku ke tempat kos. Jelas dari ruat mukanya yang sedih seperti menahan tangis. Ketika aku pamit dan kuelus kepalanya, kakak tidak tahan untuk tidak menangis. Air matanya membasahi sweater yang kupakai untuk menahan dinginnya AC di bis nanti. Setelah kubujuk, barulah kakak mau melepas keberangkatanku. Hari ini masuk minggu ke-tiga aku menjadi ayah dan suami 5-2. Maksudnya, 5 hari kos, dua hari berkumpul dengan keluarga. Dan 2 hari itu ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa rindu mereka.....
Ternyata tidak mudah untuk bekerja dan tinggal terpisah dengan keluarga. Tidak terbayangkan teman-teman sekolahku dulu yang sekarang bekerja terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu berbulan-bulan. Mungkin aku siap, tetapi isteri dan anak-anak belum tentu siap. Walaupun pada awalnya mereka mengatakan siap, ternyata setelah dijalani belum tentu bisa sekuat yang diharapkan.
Apalagi sejak Jum'at sore kesehatannya agak terganggu. Badannya agak demam, ditambah lagi hari Seninnya adalah hari pertama ulangan umum tengah tengah semester. Sepertinya lengkap sudah rasa kehilangan itu. Pada saat-saat seperti itu, biasanya aku mendampingi dan mengawasinya belajar. Sesekali kakak menanyakan materi yang belum dimengerti atau memintaku membuat pertanyaan seputar pelajaran yang akan diujikan.
Tidak seperti biasanya sore ini aku meneleponnya langsung ke HPnya. Itupun karena diminta isteriku karena melihat kakak seperti menahan tangis sejak berangkat ke sekolah. Awalnya kakak tidak mengakui, tetapi akhirnya pecah juga tangisnya. "Ayah, cepat pulang. Dirumah sepi...." Ah...aku tahu kenapa kakak sedih.....
Ternyata tidak mudah untuk bekerja dan tinggal terpisah dengan keluarga. Tidak terbayangkan teman-teman sekolahku dulu yang sekarang bekerja terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu berbulan-bulan. Mungkin aku siap, tetapi isteri dan anak-anak belum tentu siap. Walaupun pada awalnya mereka mengatakan siap, ternyata setelah dijalani belum tentu bisa sekuat yang diharapkan.
Apalagi sejak Jum'at sore kesehatannya agak terganggu. Badannya agak demam, ditambah lagi hari Seninnya adalah hari pertama ulangan umum tengah tengah semester. Sepertinya lengkap sudah rasa kehilangan itu. Pada saat-saat seperti itu, biasanya aku mendampingi dan mengawasinya belajar. Sesekali kakak menanyakan materi yang belum dimengerti atau memintaku membuat pertanyaan seputar pelajaran yang akan diujikan.
Tidak seperti biasanya sore ini aku meneleponnya langsung ke HPnya. Itupun karena diminta isteriku karena melihat kakak seperti menahan tangis sejak berangkat ke sekolah. Awalnya kakak tidak mengakui, tetapi akhirnya pecah juga tangisnya. "Ayah, cepat pulang. Dirumah sepi...." Ah...aku tahu kenapa kakak sedih.....
Subscribe to:
Posts (Atom)