07 June 2012

Bravo-Charlie – part1


Ini ilmu baru hasil ngobrol bareng pengemudi taksi, dengan dominasi warna biru, dalam perjalanan Kalibata-Fatmawati. Berbeda dengan pengemudi ketika berangkat yang cenderung lebih banyak diam, bapak yang satu ini justru berinisiatif mengajak pelanggannya ngobrol. Mungkin karena mobil yang dibawa tidak ada fasilitas entertainnya kali, ya…. Padahal perusahaannya sama.
Akupun basa-basi bertanya tentang jam keluar dari poolnya, jam masuk pool, potongan komisi jika telat masuk pool, sampai akhirnya obrolan merembet ke pola perolehan pendapatan. Diperusahaannya beliau merasa nyaman dengan dengan pola komisi. Karena tidak perlu cemas dengan jumlah pendapatan. Berapapun hasilnya, hanya akan mempengaruhi jumlah komisi yang beliau terima. Ditambah lagi dengan jaminan kesehatan untuk dirinya dan keluarganya. Walaupun harus membayar sejumlah uang per bulan, yang aku prediksi sebagai premi asuransi, namun tidak merasa keberatan karena jumlahnya hanya Rp 15.000 per orang.
Beliau membandingan dengan rekan-rekannya sesama pengemudi taksi dari perusahaan lain. Memang ada kelebihannya, yaitu setelah 5 tahun masa angsuran, kendaraan menjadi milik sendiri. Untuk usaha yang sama? Ternyata tidak juga. Karena hanya diperbolehkan untuk menggunakan selama 6 bulan setelah lunas. Setelah itu? Ya, bermatemorfosis menjadi mobil pribadi. Harus ganti nama dan cat ulang. Setelah itu biasanya dijual. 
Selama periode angsuran, mereka harus menyediakan uang setoran dengan jumlah tertentu setiap harinya. Tanpa kecuali. Nah, disinilah kreatifitas calon pemilik yang disebut dengan istilah Bravo. Bagaimana supaya tetap ada setoran walaupun sedang berhalangan, Entah karena sakit atau keperluan yang lainnya. Pengemudi cadangan, yang disebut Charlie,  harus dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

No comments:

Post a Comment