Ini ilmu baru hasil ngobrol
bareng pengemudi taksi, dengan dominasi warna biru, dalam perjalanan
Kalibata-Fatmawati. Berbeda dengan pengemudi ketika
berangkat yang cenderung lebih banyak diam, bapak yang satu ini justru
berinisiatif mengajak pelanggannya ngobrol. Mungkin karena mobil yang dibawa
tidak ada fasilitas entertainnya kali, ya…. Padahal perusahaannya sama.
Akupun basa-basi bertanya tentang jam keluar dari
poolnya, jam masuk pool, potongan komisi jika telat masuk pool, sampai akhirnya obrolan merembet ke pola perolehan pendapatan. Diperusahaannya beliau merasa nyaman
dengan dengan pola komisi. Karena tidak perlu cemas dengan jumlah pendapatan.
Berapapun hasilnya, hanya akan mempengaruhi jumlah komisi yang beliau terima.
Ditambah lagi dengan jaminan kesehatan untuk dirinya dan keluarganya. Walaupun
harus membayar sejumlah uang per bulan, yang aku prediksi sebagai premi
asuransi, namun tidak merasa keberatan karena jumlahnya hanya Rp 15.000 per
orang.
Beliau membandingan dengan
rekan-rekannya sesama pengemudi taksi dari perusahaan lain. Memang ada
kelebihannya, yaitu setelah 5 tahun masa angsuran, kendaraan menjadi milik
sendiri. Untuk usaha yang sama? Ternyata tidak juga. Karena hanya diperbolehkan
untuk menggunakan selama 6 bulan setelah lunas. Setelah itu? Ya,
bermatemorfosis menjadi mobil pribadi. Harus ganti nama dan cat ulang. Setelah itu biasanya dijual.
Selama periode angsuran, mereka
harus menyediakan uang setoran dengan jumlah tertentu setiap harinya. Tanpa kecuali.
Nah, disinilah kreatifitas calon pemilik yang disebut dengan istilah Bravo. Bagaimana
supaya tetap ada setoran walaupun sedang berhalangan, Entah karena sakit atau keperluan
yang lainnya. Pengemudi cadangan, yang disebut Charlie, harus dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi
tersebut.
No comments:
Post a Comment