Dunia ini panggung sandiwara….begitu
bunyi sebait lagu. Begitu beragam peran yang kita mainkan, mulai yang kocak, mabuk kepayang,
gembira, sekaligus bersedih. Peran apa yang kita mainkan hari ini? Peran bersedih
tentunya sangat tidak kita inginkan. Akan tetapi ketika peran itu harus kita
mainkan juga, apa daya kita untuk menolaknya?
Seperti peran, dengan setting di
sebuah ruang UGD rumah sakit daerah, yang dimainkan seorang ibu ketika sang
buah hatinya sakit. Buah hati yang sedang lucu-lucunya menjelang usianya yang
ke-2 tahun harus berjuang melawan penyakit yang menyerang paru-parunya. Nafasnya
pelan, matanya terpejam. Wajah tanpa dosa. Matanya kadang terbuka ketika sang
ibu sedikit mengguncang tubuhnya, melihat sebentar ke arah ayah bundanya seakan
berkata “Bunda, aku tidak apa-apa. Bunda jangan khawatir karena ada Allah yang akan
menjadi penolongku”. Mata bening itupun tertutup lagi dengan menyisakan nafas
satu-satu. Sang bunda semakin tidak berdaya ketika dokter yang menanganinya
memvonis harus masuk ruang ICU. Sang
ayah pun tidak kalah kalutnya. Biaya darimana? Pertanyaan yang tidak sanggup diucapkan
ketika dokter itu juga mengatakan ruang ICU di rumah sakit itu sedang penuh,
tidak ada alternatif atau empati. Berarti harus mencari rumah sakit lain, rumah
sakit swasta dengan biaya yang jauh lebih besar. Peran itu semakin berat karena
tiada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk sang buah hati tercinta selain
berdoa. Sesekali sang kakak yang ikut mendampingi, membelai wajah mungilnya. “Dedek,
bangun sayang….ini kakak”. Detik demi detik, tubuh mungil itu semakin lemah, memucat,
dan nafasnya semakin pelan. Tubuhnya dingin dan mulai membiru. Ayah bundanya
hanya bisa pasrah, sementara sang kakak hanya bisa menangis melihat penderitaan
sang adik. Sang bunda pun jatuh pingsan ketika tubuh mungil itu berhenti
bergerak, kembali ke pemiliknya yang hakiki. Tidak ada tarikan dan hembusan nafas lagi. Allah sudah mengambilnya
kembali. Menyudahi penderitaannya. Dokter dan tenaga medis bergerak terlatih. Melepaskan selang-selang dan
membereskan peralatan. Sementara sang ayah hanya terpaku pasrah, menyerah pada
keadaan.
Cilegon, 02 Januari 2013.
No comments:
Post a Comment