04 January 2013

Sepotong Kisah Di UGD


Dunia ini panggung sandiwara….begitu bunyi sebait lagu. Begitu beragam peran yang kita  mainkan, mulai yang kocak, mabuk kepayang, gembira, sekaligus bersedih. Peran apa yang kita mainkan hari ini? Peran bersedih tentunya sangat tidak kita inginkan. Akan tetapi ketika peran itu harus kita mainkan juga, apa daya kita untuk menolaknya?
Seperti peran, dengan setting di sebuah ruang UGD rumah sakit daerah, yang dimainkan seorang ibu ketika sang buah hatinya sakit. Buah hati yang sedang lucu-lucunya menjelang usianya yang ke-2 tahun harus berjuang melawan penyakit yang menyerang paru-parunya. Nafasnya pelan, matanya terpejam. Wajah tanpa dosa. Matanya kadang terbuka ketika sang ibu sedikit mengguncang tubuhnya, melihat sebentar ke arah ayah bundanya seakan berkata “Bunda, aku tidak apa-apa. Bunda jangan khawatir karena ada Allah yang akan menjadi penolongku”. Mata bening itupun tertutup lagi dengan menyisakan nafas satu-satu. Sang bunda semakin tidak berdaya ketika dokter yang menanganinya memvonis harus masuk ruang  ICU. Sang ayah pun tidak kalah kalutnya. Biaya darimana? Pertanyaan yang tidak sanggup diucapkan ketika dokter itu juga mengatakan ruang ICU di rumah sakit itu sedang penuh, tidak ada alternatif atau empati. Berarti harus mencari rumah sakit lain, rumah sakit swasta dengan biaya yang jauh lebih besar. Peran itu semakin berat karena tiada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk sang buah hati tercinta selain berdoa. Sesekali sang kakak yang ikut mendampingi, membelai wajah mungilnya. “Dedek, bangun sayang….ini kakak”. Detik demi detik, tubuh mungil itu semakin lemah, memucat, dan nafasnya semakin pelan. Tubuhnya dingin dan mulai membiru. Ayah bundanya hanya bisa pasrah, sementara sang kakak hanya bisa menangis melihat penderitaan sang adik. Sang bunda pun jatuh pingsan ketika tubuh mungil itu berhenti bergerak, kembali ke pemiliknya yang hakiki. Tidak ada tarikan dan hembusan nafas lagi. Allah sudah mengambilnya kembali. Menyudahi penderitaannya. Dokter dan tenaga medis bergerak terlatih. Melepaskan selang-selang dan membereskan peralatan. Sementara sang ayah hanya terpaku pasrah, menyerah pada keadaan.

Cilegon, 02 Januari 2013.

No comments:

Post a Comment