25 June 2012

Ketika Putri Kecilku Jatuh Cinta


Hari ini, hari ke enam aku menjalani tugas di Bumi Sriwijaya dengan ikon Jembatan Ampera-nya. Naite-ku bergetar dan pada layarnya tampak gambar amplop. Pesan singkat dari siapa gerangan? “Ayah, anaknya lagi jatuh cinta.  Saat rasa keduanya tumbuh, sang pangeran pindah sekolah. Patah hati n sedih karena Kamis ini berangkat…Nah lho??” itu bunyi pesan singkat yang kuterima dari isteriku siang ini.
Ah, tidak terasa putri kecilku telah menjelma menjadi seorang remaja putri. Dan sekarang mengalami pernik-pernik kehidupan layaknya remaja yang lainnya. Sebuah perasaan yang wajar dan akan dialami oleh siapapun. Sikap bijak sebagai orang tua, tentunya dengan memberikan pengertian agar tidak terbawa perasaan dan melakukan hal-hal diluar batasan.
Tanpa kita sadari fase kanak-kanak putra putri kita begitu cepat berlalu. Kini, fase berikutnya sudah didepan mata. Fase dimana pencarian jati diri dimulai, kelabilan emosi yang mendominasi, dan hal-hal lain yang begitu rentan menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang terlarang dan menyesatkan.
Bisa aku bayangkan betapa beratnya tanggung jawab seorang ibu ketika harus mengawasi anak-anaknya tanpa kehadiran sang suami setiap hari. Beruntunglah teknologi komunikasi sudah sedemikian canggih dengan segala kemudahannya, walaupun tidak serta merta dapat menggantikan keberadaan seorang ayah di tengah putra putrinya. Paling tidak, komunikasi dapat dilakukan kapan pun dengan biaya yang relatif murah.
“Cinta yang utama adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasa suka kepada lawan jenis adalah fitrah manusia yang kita syukuri, tetapi harus tetap kita jaga jangan sampai melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya” Kata-kata itulah yang akhirnya aku kirimkan sebagai balasan pesan singkat dari isteriku.
Selamat datang di duniamu yang baru, putriku sayang. Tetap berpegang  teguhlah pada ajaran agamamu demi keselamatanmu di dunia dan akhirat kelak.

No comments:

Post a Comment