Showing posts with label Ayah. Show all posts
Showing posts with label Ayah. Show all posts

08 December 2011

Jum'at Pagi

Jum'at pagi merupakan saat-saat yang aku tunggu-tunggu, karena beberapa jam ke depan aku akan berkumpul kembali dengan anak-anak dan isteri tercinta untuk menghabiskan waktu bersama selama akhir pekan. Walaupun kenyataannya tidak sepenuhnya demikian, karena Sabtu pagi sampai tengah hari aku masih harus berbagi waktu dengan kampus dimana aku beraktifitas sebagai dosen lepas.
Dunia kampus memang belum bisa lepas dari aktifitas rutinku. Sudah cukup lama aku mengabdi di almamaterku tercinta, bahkan dapat dikatakan sejak masih tahap perjuangan karena harus menerima pembayaran per dua bulan. Tetapi hal-hal seperti itu telah menjadi kenangan karena kampusku telah menjelma menjadi sebuah kampus yang cukup mapan dengan gedung yang kini dimiliki sendiri dan berdiri cukup megah. Fasilitas untuk perkuliahan pun semakin lengkap. Laboratorium komputer, proyektor, WiFi, sampai pangatur suhu ruangan alias AC. Akreditasi pun sudah dikantongi, yang artinya sudah diakui keberadaannya. Begitu juga dengan satu kampus lainnya dimana aku ikut 'babat alas' pada awal-awal mulai perkuliahan dengan mahasiswa angkatan pertama. Keduanya kini sudah menjadi kampus yang cukup mapan. Alhamdulillah.....
Di kampuslah aku bisa me-refresh pengetahuanku mengenai sebuah dunia yang begitu cepat berubah dan berkembang, dunia komputer.
Selepas aktivitas dikampus adalah waktu yang aku usahakan untuk sepenuhnya bercengkerama dengan keluarga sampai Senin kembali datang. Saat aku harus kembali bekerja dan berpisah dengan anak-anak dan isteriku selama satu pekan ke depan dan menanti fajar Jum'at kembali menjelang.......

05 December 2011

Ayah, Cepat Pulang......

Tidak seperti biasanya, pagi ini kakak seperti berat melepas keberangkatanku ke tempat kos. Jelas dari ruat mukanya yang sedih seperti menahan tangis. Ketika aku pamit dan kuelus kepalanya, kakak tidak tahan untuk tidak menangis. Air matanya membasahi sweater yang kupakai untuk menahan dinginnya AC di bis nanti. Setelah kubujuk, barulah kakak mau melepas keberangkatanku. Hari ini masuk minggu ke-tiga aku menjadi ayah dan suami 5-2. Maksudnya, 5 hari kos, dua hari berkumpul dengan keluarga. Dan 2 hari itu ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa rindu mereka.....
Ternyata tidak mudah untuk bekerja dan tinggal terpisah dengan keluarga. Tidak terbayangkan teman-teman sekolahku dulu yang sekarang bekerja terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu berbulan-bulan. Mungkin aku siap, tetapi isteri dan anak-anak belum tentu siap. Walaupun pada awalnya mereka mengatakan siap, ternyata setelah dijalani belum tentu bisa sekuat yang diharapkan.
Apalagi sejak Jum'at sore kesehatannya agak terganggu. Badannya agak demam, ditambah lagi hari Seninnya adalah hari pertama ulangan umum tengah tengah semester. Sepertinya lengkap sudah rasa kehilangan itu. Pada saat-saat seperti itu, biasanya aku mendampingi dan mengawasinya belajar. Sesekali kakak menanyakan materi yang belum dimengerti atau memintaku membuat pertanyaan seputar pelajaran yang akan diujikan.
Tidak seperti biasanya sore ini aku meneleponnya langsung ke HPnya. Itupun karena diminta isteriku karena melihat kakak seperti menahan tangis sejak berangkat ke sekolah. Awalnya kakak tidak mengakui, tetapi akhirnya pecah juga tangisnya. "Ayah, cepat pulang. Dirumah sepi...." Ah...aku tahu kenapa kakak sedih.....

30 November 2011

Kesempatan Yang Hilang Itu......

"Ayah, besok anak-anak tes hapalan surat-surat pendek dan do'a harian", Kata istriku ketika kutelepon malam tadi. Kakak sedang mengajari adiknya yang laki-laki, sementara anakku perempuan yang lain diajari oleh ibunya. Keduanya masih duduk di bangku TKIT dan sorenya belajar mengaji di TPA.
Ah...tanpa terasa aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ya, kesempatan mendampingi anak-anakku belajar mengenal dan membaca huruf-huruf Al-Qur'an. Tidak seperti dengan anakku yang pertama, dimana aku bisa begitu intens membimbingnya untuk mengenal dan membaca huruf-huruf Al-Qur'an.
Walaupun pagi belajar di TKIT dan sore di TPA, aku tetap mengajak mereka untuk untuk belajar setelah sholat maghrib. Rasa bahagia ketka melihat mereka begitu bersemangat membuka buku prestasi harian dan menunjukkannya kepadaku gambar bintang yang didapat, atau raut memelas manja karena harus mengulang bacaan esok hari. Ketika itulah aku menghibur dan membesarkan hatinya sambil membimbing mereka membaca bacaan yang harus diulang. Sebuah kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan uang ketika melihat binar mata mereka ketika berhasil membaca dengan benar bacaan yang harus diulang besok.
Beruntung anakku yang pertama, walaupun baru duduk di bangku SMP kelas 1, bacaannya sudah sangat lancar dan kemampuan menghapalnya jauh diatasku, ayahnya. Sehingga ibunya tidak terlalu keteteran mengajari dua anakku yang lain yang masih duduk di bangku TK. Rasanya terbayar sudah sebagian jerih payah kami, orang tuanya, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk ukuran kami, untuk membiayainya belajar di TKIT, SDIT, dan sekarang SMPIT.

Mudah-mudahan anak-anakku menjadi syafa'at bagi kami ketika kami sudah menjalani kehidupan di alam akhirat kelak......