Tidak seperti biasanya, pagi ini kakak seperti berat melepas keberangkatanku ke tempat kos. Jelas dari ruat mukanya yang sedih seperti menahan tangis. Ketika aku pamit dan kuelus kepalanya, kakak tidak tahan untuk tidak menangis. Air matanya membasahi sweater yang kupakai untuk menahan dinginnya AC di bis nanti. Setelah kubujuk, barulah kakak mau melepas keberangkatanku. Hari ini masuk minggu ke-tiga aku menjadi ayah dan suami 5-2. Maksudnya, 5 hari kos, dua hari berkumpul dengan keluarga. Dan 2 hari itu ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa rindu mereka.....
Ternyata tidak mudah untuk bekerja dan tinggal terpisah dengan keluarga. Tidak terbayangkan teman-teman sekolahku dulu yang sekarang bekerja terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu berbulan-bulan. Mungkin aku siap, tetapi isteri dan anak-anak belum tentu siap. Walaupun pada awalnya mereka mengatakan siap, ternyata setelah dijalani belum tentu bisa sekuat yang diharapkan.
Apalagi sejak Jum'at sore kesehatannya agak terganggu. Badannya agak demam, ditambah lagi hari Seninnya adalah hari pertama ulangan umum tengah tengah semester. Sepertinya lengkap sudah rasa kehilangan itu. Pada saat-saat seperti itu, biasanya aku mendampingi dan mengawasinya belajar. Sesekali kakak menanyakan materi yang belum dimengerti atau memintaku membuat pertanyaan seputar pelajaran yang akan diujikan.
Tidak seperti biasanya sore ini aku meneleponnya langsung ke HPnya. Itupun karena diminta isteriku karena melihat kakak seperti menahan tangis sejak berangkat ke sekolah. Awalnya kakak tidak mengakui, tetapi akhirnya pecah juga tangisnya. "Ayah, cepat pulang. Dirumah sepi...." Ah...aku tahu kenapa kakak sedih.....