Enam tahun sudah, menurut perhitungan tahun hijriyah, ibu kembali ke pangkuan-Nya. Sosok perempuan dengan wajah teduh dan penyabar. Sangat penyabar. Sosok yang jarang sekali mengeluh akan anak-anaknya. Bahkan menjadi pelindung ketika ada diantara kami, anaknya, melakukan kesalahan. Sebisa mungkin Ibu menutupi jangan sampai diketahui ayah. Ayah memang sangat tidak suka jika anak-anaknya berbuat salah. Tidak ada alasan untuk berbuat salah.
Ibu selalu siap terjaga untuk membukakan pintu ketika aku pulang larut dan aku lupa membawa kunci. Ibu pula yang selalu mengingatkan aku ketika aku lalai sholat, juga menekankan pentingnya menabung untuk hari depan.
Seumur hidup, seingatku tidak pernah ibu masuk rumah sakit untuk dirawat. Yang terjadi sebaliknya, Ibulah yang paling sering masuk rumah sakit untuk menunggui kami, anak-anaknya atau Ayah, jika diantara kami ada yang dirawat di rumah sakit. Ketelatenan Ibu menunggui dan merawat kami merupakan obat mujarab yang mempercepat proses kesembuhan.
Antara percaya dan tidak ketika isteriku mengabari Ibu sudah tiada, karena paginya masih sempat pamitan untuk berangkat ke kampus. Ibu yang tidak pernah sakit, harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan di ruang ICU karena serangan jantung. Mungkin itu jalan yang sudah digariskan-Nya. Setelah sempat dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang membaik setelah tiga hari di ICU dan mendapatkan suntikan obat untuk memperlancar aliran darah dijantungnya, Ibu kembali kepada pemiliknya pada hari keempat. Kaki dan kepala sudah diikat kain putih ketika aku sampai di ruang perawatan. Ayah, Teteh, dan Kakak yang pagi itu menunggui Ibu tidak berkata apa-apa. Mata mereka sembab pertanda ada kesedihan. Ayah yang mengingatkan aku untuk tidak membasahi Ibu dengan air mata, karena Ayah tahu aku pasti sangat sedih. Aku sangat dekat dengan Ibu, bahkan isteriku pun cemburu dengan kedekatan itu. Aku sempatkan untuk mencium tangnnya untuk terakhir kali. Dengan tangan itu Ibu membelaiku dan menenangkanku. Dengan tangan itu ibu merawatku dari sesosok bayi yang tiada daya menjadi seorang lelaki yang terkadang berani menentangnya.
Hari itu menjadi hari terakhir aku bersama ibu dalam satu kendaraan, di kabin belakang Mobil Jenazah. Dan kenangan itu melintas setiap kali mendengar raungan sirine mobil jenazah. Biasanya aku duduk di belakang kemudi dan Ibu disampingku ketika mangantar ke sekolah atau menjemputnya sepulang mengajar. Juga ketika ingin berbelanja ke pasar atau menghadiri undangan saudara atau kerabat. Pada hari itu juga menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, mendapatkan kesempatan memandikan Ibuku untuk yang pertama dan terakhir kali bersama kakak-kakakku. Ratusan kali atau bahkan ribuan kali Ibu memandikan aku, hanya sempat membalasnya satu kali.
Begitu indah jalinan cerita sebelum kepergian Ibu. Isteriku, adik perempuanku dan kakak iparku mengandung dengan jarak yang cukup dekat. Sepertinya Ibu menantikan kelahiran cucu-cucunya sebelum kembali kepada pemiliknya.
Aku tidak tahu berapa besar bekal yang dibawa Ibu ke alam kebadian. Tidak tahu berapa besar ilmu yang dimiliki bermanfaat untuk orang lain. Juga tidak tahu berapa banyak amal jariyah yang menjadi tabungan amalnya. Tapi aku tahu, doa-doaku yang kupanjatkan untuk ibuku akan menjadi amal yang akan menjadi syafaat untuk Ibuku. Setiap selesai sholat tidak lupa aku berdoa untuk kebahagiaan Ibu di alam sana.
"Ya Allah, berilah kabahagiaan kepada Ibuku di alam akhirat-Mu yang kekal abadi. Terimalah amal ibadah Ibuku selama hidup di dunia. Ampunilah dosa-dosanya. Jadikanlah perjuangannya mengandung dan melahirkan kami anak-anaknya dengan taruhan nyawanya, merawat dan mendidik kami dengan sepenuh hati sebagai amal yang menjadi bekal kebaikan dalam kehidupannya yang abadi" Amiin......