Showing posts with label Aku. Show all posts
Showing posts with label Aku. Show all posts

13 December 2011

Ibu

Enam tahun sudah, menurut perhitungan tahun hijriyah, ibu kembali ke pangkuan-Nya. Sosok perempuan dengan wajah teduh dan penyabar. Sangat penyabar. Sosok yang jarang sekali mengeluh akan anak-anaknya. Bahkan menjadi pelindung ketika ada diantara kami, anaknya, melakukan kesalahan. Sebisa mungkin Ibu menutupi jangan sampai diketahui ayah. Ayah memang sangat tidak suka jika anak-anaknya berbuat salah. Tidak ada alasan untuk berbuat salah.
Ibu selalu siap terjaga untuk membukakan pintu ketika aku pulang larut dan aku lupa membawa kunci. Ibu pula yang selalu mengingatkan aku ketika aku lalai sholat, juga menekankan pentingnya menabung untuk hari depan.
Seumur hidup, seingatku tidak pernah ibu masuk rumah sakit untuk dirawat. Yang terjadi sebaliknya, Ibulah yang paling sering masuk rumah sakit untuk menunggui kami, anak-anaknya atau Ayah, jika diantara kami ada yang dirawat di rumah sakit. Ketelatenan Ibu menunggui dan merawat kami merupakan obat mujarab yang mempercepat proses kesembuhan.
Antara percaya dan tidak ketika isteriku mengabari Ibu sudah tiada, karena paginya masih sempat pamitan untuk berangkat ke kampus. Ibu yang tidak pernah sakit, harus masuk rumah sakit dan menjalani perawatan di ruang ICU karena serangan jantung. Mungkin itu jalan yang sudah digariskan-Nya. Setelah sempat dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya yang membaik setelah tiga hari di ICU dan mendapatkan suntikan obat untuk memperlancar aliran darah dijantungnya, Ibu kembali kepada pemiliknya pada hari keempat. Kaki dan kepala sudah diikat kain putih ketika aku sampai di ruang perawatan. Ayah, Teteh, dan Kakak yang pagi itu menunggui Ibu tidak berkata apa-apa. Mata mereka sembab pertanda ada kesedihan. Ayah yang mengingatkan aku untuk tidak membasahi Ibu dengan air mata, karena Ayah tahu aku pasti sangat sedih. Aku sangat dekat dengan Ibu, bahkan isteriku pun cemburu dengan kedekatan itu. Aku sempatkan untuk mencium tangnnya untuk terakhir kali. Dengan tangan itu Ibu membelaiku dan menenangkanku. Dengan tangan itu ibu merawatku dari sesosok bayi yang tiada daya menjadi seorang lelaki yang terkadang berani menentangnya.
Hari itu menjadi hari terakhir aku bersama ibu dalam satu kendaraan, di kabin belakang Mobil Jenazah.
Dan kenangan itu melintas setiap kali mendengar raungan sirine mobil jenazah. Biasanya aku duduk di belakang kemudi dan Ibu disampingku ketika mangantar ke sekolah atau menjemputnya sepulang mengajar. Juga ketika ingin berbelanja ke pasar atau menghadiri undangan saudara atau kerabat. Pada hari itu juga menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, mendapatkan kesempatan memandikan Ibuku untuk yang pertama dan terakhir kali bersama kakak-kakakku. Ratusan kali atau bahkan ribuan kali Ibu memandikan aku, hanya sempat membalasnya satu kali.
Begitu indah jalinan cerita sebelum kepergian Ibu. Isteriku, adik perempuanku dan kakak iparku mengandung dengan jarak yang cukup dekat. Sepertinya Ibu menantikan kelahiran cucu-cucunya sebelum kembali kepada pemiliknya.
Aku tidak tahu berapa besar bekal yang dibawa Ibu ke alam kebadian. Tidak tahu berapa besar ilmu yang dimiliki bermanfaat untuk orang lain. Juga tidak tahu berapa banyak amal jariyah yang menjadi tabungan amalnya. Tapi aku tahu, doa-doaku yang kupanjatkan untuk ibuku akan menjadi amal yang akan menjadi syafaat untuk Ibuku. Setiap selesai sholat tidak lupa aku berdoa untuk kebahagiaan Ibu di alam sana.
"Ya Allah,
berilah kabahagiaan kepada Ibuku di alam akhirat-Mu yang kekal abadi. Terimalah amal ibadah Ibuku selama hidup di dunia. Ampunilah dosa-dosanya. Jadikanlah perjuangannya mengandung dan melahirkan kami anak-anaknya dengan taruhan nyawanya, merawat dan mendidik kami dengan sepenuh hati sebagai amal yang menjadi bekal kebaikan dalam kehidupannya yang abadi" Amiin......

08 December 2011

Padang Sunda

Ada apa dengan Padang dan Sunda? Tidak ada apa-apa, karena aku tidak sedang menulis tentang primordialisme. Aku menulis tentang sebuah rumah makan yang menjadi salah satu favoritku saat ini.
Daerah Jakarta Selatan merupakan daerah yang relatif mudah untuk menemukan tempat makan di sekitar pemukiman atau kos-kosan. Di sekitar tempat kos-ku juga demikian. Banyak pilihan tempat makan yang dapat aku kunjungi untuk menghilangkan rasa lapar. Sebenarnya aku lebih suka masakan Sunda atau Jawa yang banyak sayuran dengan bumbu yang tidak begitu kental. Berhubung yang aku cari tidak ada, maka pilihan jatuh ke rumah makan Padang-Sunda. Walaupun kenyataannya lebih dominan Padangnya dari pada Sundanya.
Yang menarik dari rumah makan ini, pelanggan tidak dilayani perorangan atau dihidang di meja layaknya rumah makan Padang, melainkan mengambil sendiri alias prasmanan. Mungkin disini nilai Sundanya. :) Pilihan masakannya sendiri tidak banyak yang berbau Sunda. Hanya satu jenis sayur berkuah bening dan beberapa jenis pepesan, sisanya kental dengan aroma santan kelapa.
Saat makan siang lumayan padat dan antri. Setiap pembeli yang sudah mengambil makanan lapor ke kasir dan akan diberikan secarik kertas berisi angka jumlah rupiah yang harus dibayar setelah selesai makan. Hal ini mengingatkan beberapa tempat makan di kawasan kos-kosan mahasiswa di Bandung. Bedanya, di Bandung langsung bayar saat itu juga.
Suasana berbeda pada saat makan malam, karena memang sebagian besar rumah makan di sekitar tempat kos-ku khusus untuk makan siang. Bahkan beberapa diantarnya sudah tutup sore hari. Mereka tidak masak lagi untuk makan malam. Apa yang tersisa, itulah yang menjadi menu untuk makan malam. Karena sepi, untuk makan malam tidak perlu lapor tetapi langsung menuju meja untk menikmati makan malam. Setelah selesai barulah menuju kasir untuk menghitung pembayaran.
Di belantara Jakarta yang begitu keras, ternyata masih ada orang yang percaya bahwa masih banyak orang jujur di dalamnya. Dan kepercayaan itu tidak salah.........

30 November 2011

7 Ribu untuk 7 Hari

Biaya percakapan telepon selular sebesar Rp 7000 untuk 7 hari, sepertinya sesuatu yang nyaris mustahil. Tapi nyata. Entah teori atau penelitian macam apa yang menghasilkan rumusan seperti itu. Walaupun hanya dibatasi untuk dua nomor dari operator yang sama, tetap saja pengguna masih diuntungkan dengan adanya paket super duper murah itu.
Sebagai pekerja urban, komunikasi yang intens dengan keluarga adalah suatu keharusan. Walaupun tidak bertatap muka secara langsung, dengan berkomunikasi aku bisa mengetahui perkembangan anak-anak. Mendengarkan keluh kesah ibunya akan kenakalan anak-anak, menyiapkan anak-anak sekolah yang harus dilakukan sendiri, atau sekedar mendengarkan cerita ibu-ibu di acara arisan.
Kalau setiap hari harus menelepon dengan durasi paling tidak 60 menit per hari, paling tidak 1200 menit setiap bulan dengan biaya yang tidak terbayangkan besarnya. Tetapi dengan hanya Rp 28000, aku bisa berkomunikasi dengan keluarga sebulan penuh. Kapan saja, tanpa batasan waktu bicara.
Akankah ini menjadi paket tetap selamanya? mudah-mudahan saja.......