Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat dengan tempat yang satu ini. Tentunya bukan tanpa sebab, karena di tempat ini aku memiliki kenangan ketika remaja dan mahasiswa. Disini, ketika Garuda belum memindahkan seluruh divisi IT nya ke Cengkareng, aku melakukan Kerja Praktek untuk tugas akhir kuliah. Di tempat sekitar ini pula pernah digelar Indonesia Air Show pada tahun 1986. Lantas apa hubungannya dengan IAS’86?
Pada kurun waktu itu, bukan hal lumrah remaja seusiaku berkunjung ke ibukota sendirian. Walaupun beserta dua temanku, tetap dianggap sendirian karena tanpa pengawalan orang tua atau yang sudah dianggap dewasa.
Perjalanan Cilegon-Jakarta bukan hal sulit, karena bus yang menghubungkan kedua kota itu selalu tersedia. Waktu tempuh cukup lama, 4 jam perjalanan. Bandingkan dengan saat ini yang cukup membutuhkan waktu 45-60 menit.
Sesampai di terminal Kalideres, kami kebingungan karena kala itu untuk kali pertama kami ke ibukota menggunakan kendaraan umum. Biasanya menggunakan bus carteran bersama teman-teman sekolah dan para guru. Akhirnya diputuskan untuk naik bajaj. Setelah negosiasi ala kadarnya, kendaraan operasional Bang Bajuri pun meluncur. Ternyata si Abang bajaj salah mendengar tujuan kami sehingga kami pun nyaris diantar ke Kebayoran. Karena harus balik lagi ke Kemayoran, kami diminta ongkos tambahan. Dari pada diturunkan di tempat yang tidak kami kenal, kami pun menyetujui permintaan itu tentunya setelah tawar-menawar.
Singkat cerita, sampailah kami di arena pameran dirgantara terbesar yang pernah diselenggarakan di tanah air ini…….Pesawat tempur-pesawat tempur manca negara yang dipajang dan dapat kami sentuh menumbuhkan rasa ingin yang besar untuk menerbangkannya. Itu sebabnya aku pernah bercita-cita menjadi penerbang pesawat tempur, walaupun gagal sebelum pernah mencoba. Tiba-tiba langit menggelegar dan beberapa pesawat tempur melesat sambil menyemburkan asap dari kedua sayapnya…pemandangan yang sangat luar biasa buat kami……atraksi demi atraksi kami nikmati. Tidak lupa kami pun mengabadikan kesempatan berharga itu dengan berfoto di depan pesawat. Kamera yang temanku bawa aku angap kamera yang luar biasa, karena hasilnya dua kali lipat. Artinya dengan film isi 36 kami bisa membuat foto sebanyak 72 buah. Kok bisa? Tentu bisa karena teknologi kameranya hanya menggunakan setengah ukuran film untuk satu jepretan.
Sore menjelang, atraksi pun selesai. Waktunya untuk kembali ke rumah. Kami tidak tahu dimana kami harus mencari kendaraan untuk menuju terminal Kalideres. Kami hanya mengikuti rombongan didepan yang berjalan kaki meninggalkan arena yang semakin sepi. Perlahan tapi pasti rombongan didepan kami semakin mengecil, mungkin rumah mereka dekat daerah ini. Sampai akhirnya rombongan didepan kami habis sama sekali. Kami pun terhenti di sebuah perempatan, yang dikemudian hari aku mengenalinya dengan sebutan Harmoni. Akhirnya, karena hari semakin sore, kami putuskan untuk bertanya. Ketika kami memberitahu tujuan kami, orang yang kami tanya terbelalak. Akhirnya kami disarankan untuk naik semacam bus kecil tujuan Kalideres. Sekarang aku tahu mengapa orang yang kami tanya terbelalak…..