30 November 2011

Kesempatan Yang Hilang Itu......

"Ayah, besok anak-anak tes hapalan surat-surat pendek dan do'a harian", Kata istriku ketika kutelepon malam tadi. Kakak sedang mengajari adiknya yang laki-laki, sementara anakku perempuan yang lain diajari oleh ibunya. Keduanya masih duduk di bangku TKIT dan sorenya belajar mengaji di TPA.
Ah...tanpa terasa aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ya, kesempatan mendampingi anak-anakku belajar mengenal dan membaca huruf-huruf Al-Qur'an. Tidak seperti dengan anakku yang pertama, dimana aku bisa begitu intens membimbingnya untuk mengenal dan membaca huruf-huruf Al-Qur'an.
Walaupun pagi belajar di TKIT dan sore di TPA, aku tetap mengajak mereka untuk untuk belajar setelah sholat maghrib. Rasa bahagia ketka melihat mereka begitu bersemangat membuka buku prestasi harian dan menunjukkannya kepadaku gambar bintang yang didapat, atau raut memelas manja karena harus mengulang bacaan esok hari. Ketika itulah aku menghibur dan membesarkan hatinya sambil membimbing mereka membaca bacaan yang harus diulang. Sebuah kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan uang ketika melihat binar mata mereka ketika berhasil membaca dengan benar bacaan yang harus diulang besok.
Beruntung anakku yang pertama, walaupun baru duduk di bangku SMP kelas 1, bacaannya sudah sangat lancar dan kemampuan menghapalnya jauh diatasku, ayahnya. Sehingga ibunya tidak terlalu keteteran mengajari dua anakku yang lain yang masih duduk di bangku TK. Rasanya terbayar sudah sebagian jerih payah kami, orang tuanya, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk ukuran kami, untuk membiayainya belajar di TKIT, SDIT, dan sekarang SMPIT.

Mudah-mudahan anak-anakku menjadi syafa'at bagi kami ketika kami sudah menjalani kehidupan di alam akhirat kelak......

7 Ribu untuk 7 Hari

Biaya percakapan telepon selular sebesar Rp 7000 untuk 7 hari, sepertinya sesuatu yang nyaris mustahil. Tapi nyata. Entah teori atau penelitian macam apa yang menghasilkan rumusan seperti itu. Walaupun hanya dibatasi untuk dua nomor dari operator yang sama, tetap saja pengguna masih diuntungkan dengan adanya paket super duper murah itu.
Sebagai pekerja urban, komunikasi yang intens dengan keluarga adalah suatu keharusan. Walaupun tidak bertatap muka secara langsung, dengan berkomunikasi aku bisa mengetahui perkembangan anak-anak. Mendengarkan keluh kesah ibunya akan kenakalan anak-anak, menyiapkan anak-anak sekolah yang harus dilakukan sendiri, atau sekedar mendengarkan cerita ibu-ibu di acara arisan.
Kalau setiap hari harus menelepon dengan durasi paling tidak 60 menit per hari, paling tidak 1200 menit setiap bulan dengan biaya yang tidak terbayangkan besarnya. Tetapi dengan hanya Rp 28000, aku bisa berkomunikasi dengan keluarga sebulan penuh. Kapan saja, tanpa batasan waktu bicara.
Akankah ini menjadi paket tetap selamanya? mudah-mudahan saja.......